Hiburan

Kompleksitas keindonesiaan dalam pameran “di sini d.l.l.”

kata “d.l.l.” digunakan secara puitis yang menawarkan diskusi kompleksitas sejarah dan narasi terkait lokasi yang berhubungan dengan Indonesia.

Jakarta (LiveNews) – Tujuh puluh delapan tahun Indonesia merdeka, gejolak dari peristiwa-peristiwa bersejarah telah banyak memberi pengaruh pada seniman. Melalui pelbagai karyanya, para seniman merespons perubahan kondisi sosial, politik, dan ekonomi sambil menawarkan gagasan dan perspektif yang senantiasa cair.

Setidaknya, itu pula yang dapat dijumpai dalam pameran “di sini d.l.l.” dari Museum MACAN (Modern and Contemporary Art in Nusantara). Dibuka sejak Juni lalu, pameran menampilkan pilihan karya dari koleksi museum. Mayoritas karya yang dipamerkan merupakan seni lukis yang dibuat oleh para perupa penting dalam sejarah seni rupa. Ada pula karya seni dalam medium lain termasuk video digital.

Judul “di sini d.l.l.” dirujuk dari salah satu baris dalam teks proklamasi kemerdekaan Indonesia yang dibacakan Presiden pertama RI, Soekarno, pada 17 Agustus 1945. Kata “d.l.l.” atau “dan lain-lain” menandakan bagaimana perumusan naskah berlangsung dalam waktu yang begitu sempit sehingga detail pemindahan kekuasaan belum dijelaskan pada saat itu.

Namun dalam pameran di museum itu yang akan berlangsung hingga 10 Oktober 2023, kata “d.l.l.” digunakan secara puitis yang menawarkan diskusi kompleksitas sejarah dan narasi terkait lokasi yang berhubungan dengan Indonesia. Melalui sekitar 50 karya yang terbagi menjadi beberapa bagian, pengunjung dapat menyusuri keragaman interpretasi para perupa yang bertalian erat dengan pertanyaan-pertanyaan seputar keindonesiaan.

Di lorong pintu masuk pameran, pengunjung akan disuguhi rekaman suara dengan gambar yang menampilkan Soekarno saat membacakan teks proklamasi. Penjelajahan pameran dimulai dengan area khusus yang diberi judul “Gelora Bangsa Baru”. Dalam area ini, pengunjung akan menemukan karya lukisan dari perupa yang lahir dari era Revolusi seperti S. Sudjojono, Dullah, Itji Tarmizi, dan Hendra Gunawan.

Baca Juga:   Pidi Baiq siap merilis novel terbaru "Dilan 1983 Wo Ai Ni"

Salah satu lukisan yang langsung memikat pengunjung untuk mendekat yaitu “Bung Karno di Tengah Perang Revolusi” karya Dullah yang dibuat pada 1966. Lukisan yang disapu cat minyak berukuran 2 meter ini ditampilkan bersama sketsa kecil bergambar sama yang dibuat Dullah pada satu tahun sebelumnya.

Dullah, yang bertugas sebagai pelukis Istana pada 1950, tampak mengagungkan Soekarno dalam lukisan tersebut. Dengan mengenakan setelan putih khasnya, Soekarno mengacungkan tangannya dan dikelilingi oleh rakyat yang membawa bendera merah putih. “Bung Karno di Tengah Perang Revolusi” memang tidak dilukis berdasarkan peristiwa sejarah, namun memiliki kemiripan dengan pemandangan saat Soekarno berpidato di Lapangan Ikada pada September 1945.

Gejolak Revolusi yang membara juga tampak pada lukisan lain karya S. Sudjojono berjudul “Ngaso” (1964) dan “Pertemuan di Tjikampek jg Bersedjarah” (1964). Dua lukisan ini didasarkan pada peristiwa yang disaksikan langsung oleh Sudjojono pada 1945. “Ngaso” menggambarkan delapan pejuang yang sedang beristirahat dalam reruntuhan bangunan, sementara “Pertemuan di Tjikampek jg Bersedjarah” menampilkan gambaran tiga pemimpin Angkatan Pemuda Indonesia (API), yaitu Chairul Saleh, Wikana, dan A.M. Hanafi, saat singgah di markas Cikampek.

Suasana yang berbeda tampak pada lukisan Itji Tarmizi berjudul “Keluarga” (1962). Seperti judulnya, lukisan menampilkan anggota keluarga yang berpakaian compang-camping bahkan salah satu anak tidak mengenakan busana. Lukisan Itji menunjukkan sisi lain dari Revolusi yang menyimpan realitas sosial dan ekonomi rakyat yang masih hidup dalam kemelaratan.

Karya-karya yang dipamerkan museum tersebut tidak disusun berurutan berdasarkan waktu kronologis sejarah maupun waktu pembuatan lukisan. Pembabakan pameran “di sini d.l.l.” menjadi menarik sebab setiap bagiannya menawarkan karya lintas generasi dalam upaya merespon masa-masa penting dalam sejarah Indonesia.

Baca Juga:   GIK gelar "Dendang Riang Kemerdekaan" meriahkan HUT ke-78 RI
Sejumlah pengunjung melihat koleksi lukisan dalam pameran “di sini d.l.l.” yang digelar oleh Museum MACAN, Jakarta, Kamis (17/8/2023). LiveNews/Rizka Khaerunnisa

Di samping “Gelora Bangsa Baru”, ada pula area berjudul “Polemik Bentang Alam”. Indonesia, yang dikenal dengan nama Hindia Belanda pada masa penjajahan, sejak lama diidentikkan dengan bentangan alam yang molek seperti yang ditampilkan dalam lukisan Raden Saleh berjudul “Javanese Mail Station” (1879) dan “Indische Landschap (1853)”. Namun di sisi lain, muncul pula realitas kerusakan lingkungan yang tergambar dalam “Akibat Pemboman di Lengkong Besar Bandung, 1945” (1979) karya Sudjana Kerton dan “Sweet Crude” (2015) karya Maryanto.

Pandangan orientalisme terhadap alam dan manusia Indonesia juga kerap ditemui dalam karya-karya yang terkait dengan penggambaran pulau Bali. Diskusi inilah yang coba dihadirkan dalam area “Buaian Angan Tropis” melalui karya Miguel Covarrubias dan Walter Spies. Pada area yang berfokus pada Bali, karya-karya kontemporer turut ditampilkan seperti karya I GAK Murniasih yang memiliki pendekatan personal terkait isu seksualitas.

Perbincangan mengenai keindonesiaan berlanjut ke area “Kehadiran Tak Kasat” hingga “Ragam Buana”. Masa peralihan Orde Lama ke Orde Baru meninggalkan banyak tragedi kemanusiaan. Pertanyaan-pertanyaan seputar identitas dan kebebasan berekspresi pun menjadi momok sepanjang Orde Baru. Karya-karya seperti “Wipe Out #1” (2011) yang dibuat FX Harsono menjadi salah satu bahan perenungan atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Sementara itu, “Ragam Buana” menjadi area yang menawarkan pertanyaan-pertanyaan lebih terbuka seputar tradisi dan modernitas, masa lalu dan masa depan, Barat dan Timur, keberanian dan kepolosan, hingga umum dan pribadi. Area ini didominasi karya-karya kontemporer. Beberapa karya yang patut menjadi sorotan dalam area ini termasuk “Lingga – Yoni” (1994) karya Arahmaiani dan “Terpesona dengan Kegelisahan” (2022) karya Nadiah Bamadhaj.

Penjelajahan terhadap karya-karya dalam pameran “di sini d.l.l.” mengingatkan pengunjung bahwa persoalan identitas, kepemilikan, hingga keterikatan terhadap suatu wilayah memang merupakan proses yang berkesinambungan.

Baca Juga:   Empat aktor Thailand siapkan pertunjukan "ManSuang" di Jakarta

“di sini d.l.l.”, pada akhirnya, menghimpun banyak pertanyaan dan perenungan terkait keindonesiaan yang selayaknya dapat menjadi referensi relevan di masa sekarang, apalagi dalam momen yang bertepatan dengan peringatan Kemerdekaan Indonesia.

 

Editor: Achmad Zaenal M

Related Articles

Back to top button