Tekno

Perang Lawan Hamas Bakal Bikin Teknologi dan Industri Israel Lumpuh, Kok Bisa?

Foto: Sky News

LiveNews – Sektor industri dan teknologi Israel saat ini sedang menghadapi waktu yang sulit. Ini terutama disebabkan oleh perang besar yang pecah akhir pekan lalu dengan kelompok Hamas Palestina. Kondisi ini telah membuat para investor dan analis khawatir, terutama ketika ekonomi global sedang mengalami perlambatan, yang berdampak pada penurunan pendanaan di Israel.

Israel dikenal sebagai salah satu negara dengan sektor teknologi yang sangat inovatif di seluruh dunia. Sekitar 14% tenaga kerja di negara ini bekerja di sektor teknologi, yang juga mendukung hampir 20% pertumbuhan ekonomi Israel.

Namun, tahun ini, pendanaan ke Israel mengalami penurunan tajam karena ketidakpastian ekonomi global. Bahkan ketika situasi ekonomi sedang membaik, konflik tiba-tiba meletus, mempengaruhi investasi asing. Jon Medved, Kepala Eksekutif OurCrowd, salah satu perusahaan modal ventura terkemuka di Israel, mengatakan bahwa investasi luar negeri akan melambat dalam beberapa minggu dan bulan ke depan, terutama jika konflik masih terus berlanjut.

Baca juga: Diklaim Tercanggih Sedunia, Teknologi AI Israel Tak Mampu Bendung Rudal Hamas

Dia juga menyatakan bahwa saat ini bukan waktu yang mudah bagi Israel untuk mendapatkan investasi. Bahkan, beberapa penerbangan ke Israel telah dibatalkan karena konflik yang sedang berlangsung.

Konflik terbaru dimulai setelah kelompok militan Palestina Hamas menyerbu pagar batas Gaza pada Sabtu (7/10). Sejak saat itu, media Israel melaporkan bahwa sudah ada sekitar 900 korban jiwa, kebanyakan di antaranya adalah warga sipil yang tewas di rumah mereka. Sementara itu, sejumlah warga Israel dan orang asing dijadikan sandera oleh Hamas, yang kemudian dibalas oleh serangan udara sengit oleh Israel di Jalur Gaza yang dikuasai oleh Hamas.

Baca Juga:   Tiga Mahasiswa FK UNPAD Raih Emas dalam Ajang Kompetisi Inovasi Internasional

Sebelum konflik ini, investasi pada startup teknologi di Israel telah menurun, seiring dengan perlambatan ekonomi global dan keruntuhan Silicon Valley Bank (SVB), yang merupakan salah satu sumber utama pendanaan. Selain itu, ada juga usulan perombakan hukum yang mengancam perusahaan dan hak kekayaan intelektual.

Sebelumnya, para investor dan analis telah memperingatkan perusahaan teknologi yang beroperasi di Israel untuk memperkuat pertahanan keamanan mereka, karena mereka memprediksi adanya disrupsi di sektor teknologi.

Akibat Konflik Hamas dan Israel

hamas israel

Gambar yang diambil pada 11 Oktober 2023 ini menunjukkan pemandangan udara dari bangunan-bangunan yang hancur akibat serangan udara Israel di kamp Jabalia untuk pengungsi Palestina di Kota Gaza. Foto: CNBC

Akibat dari konflik antara Hamas dan Israel yang terjadi pekan lalu, banyak bisnis menghentikan operasional mereka. Nilai mata uang Israel New Shekel juga turun ke level terendah dalam hampir delapan tahun terhadap dolar AS pada awal pekan ini.

Indeks saham utama Tel Aviv mengalami penurunan sebanyak 7%, dan harga obligasi pemerintah juga turun hingga 3% sebagai respons awal pasar terhadap konflik yang merupakan salah satu yang paling berdarah dalam beberapa dekade terakhir di Israel.

Baca juga: Hanya Modal HP Huawei, Hamas Mampu Tembus Keamanan Canggih Israel!

Jack Ablin, CEO dan co-founder Cresset Wealth Advisors, menggambarkan situasinya sebagai “disrupsi besar untuk bisnis.” Dia juga menyatakan bahwa jika konflik ini berlanjut, banyak karyawan perusahaan teknologi mungkin akan ditugaskan menjadi pasukan militer.

Quincy Krosby, Chief Global Strategist di LPL Financial, menyarankan agar perusahaan teknologi yang beroperasi di Israel meningkatkan upaya perlindungan fasilitas mereka dari serangan yang sedang berlangsung. Semua pihak perlu bekerja keras untuk menjaga stabilitas dan inovasi dalam sektor teknologi Israel, meskipun kondisinya saat ini sangat menantang.

Baca Juga:   Teknologi Agrokonservasi Curi Perhatian di Festival LIKE 2023

Baca Berita dan Artikel yang lain di Google News.

(dwk)

Related Articles

Back to top button