Tekno

Dokter Sukses Transplantasi Jantung Babi ke Manusia, Pasien Sehat

Foto: NYPost

LiveNews – Di University of Maryland Medical Center (UMMC) di Amerika Serikat, sejumlah ahli bedah telah berhasil melakukan transplantasi jantung yang sangat bersejarah. Pada Rabu, 20 September 2023, Lawrence Faucette, seorang pria berusia 58 tahun yang telah dirawat di UMMC sejak 14 September 2023 karena penyakit jantung stadium akhir, menjalani operasi yang mengubah hidupnya. Yang membuatnya begitu istimewa adalah bahwa jantung yang digunakan dalam transplantasi tersebut berasal dari seekor babi. Berita baiknya adalah operasi ini sukses besar, dan Faucette sudah dapat bernapas tanpa bantuan alat hanya dua hari setelah operasi.

Sebelumnya, pada Januari 2022, tim medis dari University of Maryland juga telah melakukan transplantasi jantung babi pertama pada seorang pria bernama David Bennett, yang menghadapi situasi kritis akibat gagal jantung.

Sayangnya, meskipun awalnya berhasil melewati operasi tersebut, Bennett meninggal dua bulan kemudian karena sejumlah faktor kompleks yang mempengaruhi kesehatannya, termasuk kondisi yang sudah ada sebelum operasi.

Baca juga: Susu Babi akan Dapat Dikonsumsi oleh Manusia di Masa Depan

Transplantasi jantung babi ini adalah terobosan medis yang sangat penting, terutama untuk pasien yang tidak memenuhi syarat untuk transplantasi jantung manusia karena kondisi kesehatan mereka. Ini adalah langkah kedua yang berhasil dilakukan dalam percobaan ini, dan harapannya adalah bahwa prosedur ini akan membantu menyelamatkan nyawa pasien dengan penyakit jantung stadium akhir yang sebelumnya tidak memiliki alternatif pengobatan yang memadai.

Prosedur ini juga telah mendapatkan persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) sebagai jalur potensial bagi pasien dengan kondisi serius atau mengancam jiwa yang tidak memiliki pilihan pengobatan lain yang memadai.

Baca Juga:   Mengenal Apa Itu DeFi (Keuangan Terdesentralisasi) Bagi Pemula

Jantung Babi yang Dimodifikasi Secara Genetik

jantung babi
Foto: University of Mayland

Penting untuk dicatat bahwa jantung babi yang digunakan dalam transplantasi ini adalah hasil modifikasi genetik. Babi-babi ini dimodifikasi oleh Revivcor, anak perusahaan United Therapeutics Corporation, dengan mengubah 10 gen dalam genom mereka.

Tiga dari gen tersebut dinonaktifkan untuk menghilangkan gula alfa-gal dalam sel darah babi, yang dapat memicu reaksi parah pada sistem kekebalan tubuh manusia, yang menyebabkan penolakan organ. Ini sangat penting karena alergi alfa-gal adalah kondisi di mana sistem kekebalan tubuh manusia bereaksi berlebihan terhadap senyawa dalam daging merah.

Selain itu, 6 gen manusia juga ditambahkan ke dalam genom babi untuk meningkatkan penerimaan organ oleh sistem kekebalan tubuh manusia. FDA pertama kali menyetujui babi-babi dengan mutasi gen seperti ini pada tahun 2020 untuk potensi penggunaan medis.

Selama perawatan pasien seperti Faucette, dokter menggunakan pengobatan antibodi eksperimental untuk mengendalikan sistem kekebalan tubuh dan mencegah penolakan. Pasien juga dipantau secara ketat untuk tanda-tanda penolakan atau perkembangan virus terkait babi. Babi donor juga menjalani penyaringan ketat untuk memastikan tidak ada tanda-tanda virus atau patogen yang dapat ditularkan.

Baca juga: Penelitian Terbaru Coba Menumbuhkan Ginjal Manusia Pada Babi

Peluang Baru untuk Hidup

Meskipun masih banyak yang harus dipelajari tentang transplantasi jantung babi ini, pencapaian ini membuka peluang baru bagi pasien yang sebelumnya tidak memiliki harapan untuk hidup lebih lama. Faucette sendiri sangat berani dalam mengambil langkah ini untuk memajukan ilmu pengetahuan medis. Dia sepenuhnya memahami risiko-risiko yang terlibat dalam perawatan eksperimental ini, dan keputusannya dibuat setelah diskusi panjang dengan tim medis dan ahli etika medis.

Saat ini, belum ada uji klinis yang menggunakan organ babi untuk transplantasi pada manusia hidup, tetapi perkembangan ini menunjukkan potensi besar dalam mengatasi masalah penyakit jantung yang serius. Semoga, dalam masa mendatang, terobosan medis ini akan terus berkembang dan membantu lebih banyak orang yang membutuhkan transplantasi jantung untuk mendapatkan kesempatan hidup yang lebih baik.

Baca Juga:   Red Wolf: Teknologi Pengenalan Wajah Milik Israel untuk Mata-matai Warga Palestina

Baca Berita dan Artikel yang lain di Google News.

(dwk)

Related Articles

Back to top button