Tekno

Terhubung ke Smartphone, BRIN Ciptakan Teknologi Biosensor Portabel Pendeteksi Virus

Foto: Pexels

LiveNews – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sedang mengembangkan sebuah produk biosensor portabel. Alat ini dikembangkan oleh Pusat Riset Elektronika (PRE) dan dapat mengidentifikasi virus serta polusi lingkungan.

Biosensor merupakan sebuah perangkat analisis yang menggabungkan komponen biologis dengan sensor fisikokimia untuk mendeteksi zat kimia spesifik, sehingga memberikan output yang dapat diukur. Keunggulan dari perangkat ini meliputi portabilitas, kemudahan penggunaan, dan tidak memerlukan pasokan daya tambahan. Selain itu, biosensor yang sedang dikembangkan juga dapat terhubung dengan Internet of Things (IoT) dan pembelajaran mesin.

Robeth Viktoria Manurung, seorang Peneliti Ahli Utama di Pusat Riset Elektronika (PRE) BRIN, mengungkapkan bahwa perangkat biosensor ini diharapkan akan memiliki dimensi portabel dan terhubung dengan smartphone untuk meningkatkan efisiensi penggunaannya.

“Harapannya, perangkat ini akan digunakan sebagai peralatan portabel yang mampu dihubungkan dengan smartphone,” ungkap Robeth seperti yang dilaporkan oleh laman resmi BRIN pada Jumat (29/3/2024).

Selain penelitian tentang biosensor, Robeth dan timnya juga berhasil menciptakan prototipe sensor untuk mengukur kandungan unsur hara tanah serta mendeteksi polusi lingkungan.

“Hasil-hasil tersebut sudah dipublikasikan di jurnal global bereputasi menengah atau tinggi,” ujarnya.

Baca juga: Peneliti BRIN Ungkap Potensi Penggunaan AI untuk Pertahanan IKN

Kelebihan Teknologi Biosensor

Keunggulan perangkat ini meliputi kemampuan portabel, kemudahan penggunaan, dan tidak membutuhkan pasokan daya cadangan. Biosensor yang dikembangkan juga dapat terhubung dengan Internet of Things (IoT) dan pembelajaran mesin.

Peneliti Ahli Utama di PRE BRIN, Robeth Viktoria Manurung, fokus pada penelitian biosensor yang berbasis elektrokimia, dengan memanfaatkan kombinasi graphene/ZnO nanoparticles. Perangkat ini mampu mendeteksi tingkat biomarker human SAA, yang memiliki peran dalam pengobatan kanker paru-paru dan menilai tingkat keparahan pasien yang terinfeksi COVID-19.

Baca Juga:   Nokia 105 (2023) Sudah Bisa Dibeli di Indonesia, Harga Cuma Rp 200.000-an

Foto: BRIN

Baca juga: Janji Cak Imin Bakal Tambah Dana Riset BRIN Jika Menang Pemilu 2024

Kelemahan Teknologi Biosensor

Dibalik kelebihan pada perangkat ini, tentu ada faktor kelemahan yang disampaikan. Robeth menyatakan bahwa saat ini, perangkat biosensor yang sedang dikembangkan masih memiliki kelemahan karena bergantung pada bahan baku yang harus diimpor.

“Bahan baku untuk pembuatan biosensor sebagian besar merupakan produk impor. Hal ini berimbas kepada biaya produksi yang mahal,” paparnya.

Karenanya, ia menyarankan perlunya kolaborasi lintas disiplin antara ilmuwan, insinyur, dan praktisi dari berbagai bidang, termasuk biologi, kimia, ilmu material, dan elektronika.

Tantangan Dalam Mengembangkan Biosensor

Tantangan lainnya, tutur Robeth, adalah bagaimana mencapai sensitivitas dan selektivitas yang tinggi, dengan tetap menjaga stabilitas dan reproduktivitas.

Sensitivitas, artinya memastikan bahwa biosensor dapat mendeteksi analit target konsentrasi rendah secara andal.“Faktor-faktor seperti noise, interverensi dari senyawa lain, dan efisiensi transduksi sinyal dapat memengaruhi sensitvitas biosensor,” jelas Robeth.

Sementara itu, aspek selektivitas menjadi krusial bagi biosensor karena diperlukan untuk membedakan analit yang dituju dari molekul lain yang ada dalam sampel. “Mencapai selektivitas tinggi dapat menjadi tantangan, terutama dalam sampel biologis yang kompleks. Di mana, mungkin terdapat banyak zat yang mengganggu,” terangnya.

Stabilitas adalah faktor penting dalam menjaga kestabilan komponen biosensor dari waktu ke waktu. Hal ini memiliki signifikansi penting dalam konteks penggunaan jangka panjang dan mendapatkan hasil yang dapat diandalkan.

“Faktor-faktor seperti degradasi unsur biologis, hilangnya aktivitas enzim, atau perubahan sifat fisik bahan sensor dapat memengaruhi stabilitas biosensor,” tambah Robeth.

Terakhir, Reproduktivitas merupakan aspek penting dalam memastikan konsistensi hasil dan kemampuan biosensor untuk menghasilkan data yang dapat direproduksi pada sampel yang berbeda. Hal ini memiliki signifikansi besar dalam konteks aplikasi praktis.

Baca Juga:   Google Berencana Luncurkan Mesin Pencari Berbayar Berbasis AI

Variabilitas dalam proses manufaktur, komponen sensor, atau kondisi lingkungan bisa mempengaruhi reproduktivitas pengukuran biosensor.

Baca Berita dan Artikel yang lain di Google News

(ny)

Related Articles

Back to top button