Tekno

Perjuangan Tessa Wijaya Rela Tak Digaji dan Cuma Makan Mie Instan Demi Bangun Xendit

Foto: Prestige

LiveNews – Nama Xendit telah mencetak sepak terjangnya tersendiri dalam dunia fintech Indonesia. Dinaungi nama PT Sinar Digital Terapan, Xendit merupakan perusahaan di bidang payment gateway yang menawarkan berbagai layanan pembayaran dan pengiriman dana.

Xendit menetapkan fokus utama mereka untuk membangun rel pembayaran terdepan di Indonesia yang aman dan mudah bagi semua orang. Pelanggan mereka pun bervariasi, mulai dari UMKM lokal hingga startup dan bisnis besar.

Di balik kesuksesannya, Xendit merupakan buah usaha sebuah founding team yang terdiri dari empat orang. Salah satu anggotanya yang juga satu-satunya perempuan dalam tim tersebut adalah Tessa Wijaya, yang kini menjabat sebagai COO Xendit.

Sebelum mulai meniti karir, Tessa yang lahir di Sukabumi ini mengenyam pendidikan di Syracuse University, New York (1999-2003) dan melanjutkan ke bidang filosofi di University of Sydney (2004-2006). Melalui masa-masa pendidikannya, Tessa mengakui ia memperoleh cerminan kondisi dan sistem di negara-negara tersebut. Ia pun mulai mempertimbangkan untuk menerapkan hal-hal baik yang ia pelajari di Indonesia.

Karirnya pun dimulai dengan mencoba membangun bisnis sendiri. Tessa sempat membangun bisnis kafe dan clothing brand yang sayangnya tidak berlangsung lama.

Dalam perjalanan karirnya, ia pun mendarat di sebuah perusahaan private equity sebagai seorang analis. Dari sanalah Tessa mulai terpapar lebih banyak dengan orang-orang dalam bisnis teknologi. Ia mulai mempelajari lebih jauh mengenai e-commerce marketplace hingga teknologi dan algoritma yang mempengaruhi bidang bisnis tersebut.

Baca Juga: Startup B2B ini Jadi Unicorn Baru di Indonesia

Hingga kemudian ia diundang Moses Lo, yang kini menjabat sebagai CEO Xendit, untuk bekerjasama membangun perusahaan infrastruktur keuangan. Tessa pun merelakan pekerjaannya yang saat itu (2016) sudah mencapai tahap Senior Analyst dan terjun dalam tim yang membangun Xendit bersama dua founder lainnya, Bo Chen dan Juan Gonzalez.

Baca Juga:   Sejauh Mana Anda Harus Memilih: Microservices atau API?

Selama dua tahun pertama, mereka tidak menerima gaji dan hanya mendapat sedikit sekali keuntungan, sehingga mereka pun bekerja dalam satu rumah yang sama sebagai kantor dan menghemat uang dengan makan mi instan.

Tessa mengemukakan, kegagalan mereka di awal menuntut mereka hingga harus mengubah strategi sebanyak dua kali sebelum platform mereka bisa berhasil. Ia juga mengungkapkan bagaimana saat itu di dunia fintech sendiri belum banyak sesama bos perempuan sehingga ia merasa kekurangan jaringan.

Namun berangsur-angsur, lanskap bisnis di Indonesia mengalami perubahan signifikan, di mana mulai banyak perempuan muda yang juga ingin memulai bisnis sendiri. Tessa pun mulai bisa berbagi perjalanannya dan memberikan saran dalam penggalangan dana bisnis mereka.

Pada September 2021, Xendit akhirnya resmi menyandang status unicorn. Saat itu mereka sudah memiliki lebih dari 3500 pelanggan, dengan transaksi tahunan meningkat tiga kali lipat dari 65 juta menjadi 200 juta di tahun 2022.

Tessa pun turut mencetak prestasi pribadi. Ia dinobatkan sebagai salah satu dari 12 perempuan Indonesia yang masuk daftar Top 100 Asia-Pacific Women-Powered, High-Growth Business dari J.P. Morgan Private Bank.

Baca Berita dan Artikel yang lain di Google News

(nar)

Related Articles

Back to top button