Tekno

Ubah Emosi Jadi Solusi, Inilah Kisah Founder Waste4Change dalam Mengelola Sampah

Foto: Youngster.id

LiveNews – Pada tahun 2008, data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa penduduk Indonesia setiap harinya menghasilkan sampah sebanyak 69% yang berakhir di TPA. Lalu, sampah sebanyak 10% ditimbun, 5% dibakar, dan sisa 8,5% sampah tersebut belum terlayani.

Data-data yang menunjukkan berbagai permasalahan sampah di Indonesia, membuat Mohamad Bijaksana Junerosano, salah seorang aktivis lingkungan marah sebab permasalahan tersebut tidak kunjung selesai.

Dalam sebuah buku yang diterbitkan oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dengan judul Kisah Inspiratif, Revolusi Mental, Seno, panggilan akrabnya, berusaha untuk mengalihkan rasa marahnya menjadi sesuatu yang produktif dan solutif.

Dikutip dari laman SWA, Sano mulai tertarik dengan isu lingkungan dan sampah saat sedang mencari inspirasi jurusan kuliah yang akan diambilnya. Ketika itu, ia melihat sebuah pemberitaan mengenai sampah di Jakarta dan merasa tertarik untuk mempelajarinya lebih jauh.

Baca juga: Adrian Gunadi:Pimpin Investree Menuju Transformasi Pinjaman Peer-to-Peer di Indonesia 

Sano berpendapat bahwa selama ini, pandangan yang mengatakan bahwa sampah itu sesuatu yang tidak berguna dan harus dibuang, merupakan pandangan yang salah. Jika dikelola dengan benar, maka sampah itu dapat menghasilkan uang hingga triliunan rupiah. Karena permasalahan sampah inilah yang membuatnya memutuskan untuk berkuliah di Teknik Lingkungan, Institut Teknologi Bandung.

Saat kuliah, Sano mendirikan sebuah kegiatan ekstrakulikuler mahasiswa yang bergerak di bidang lingkungan hidup bernama U Green. Dilansir dari laman Detik, organisasi ini diketahui pernah menginisiasi gerakan ‘Kebunku’ yang diambil dari singkatan “kertas bekas hijaukan bangsaku”.

Sebelum lahirnya Waste4Change, ia mendirikan Greeneration Indonesia yang membawahi sejumlah usaha yang dijalankannya, mulai dari produksi tas ramah lingkungan “Bagoes”, yayasan diet kantong plastik, hingga kemudian lahirlah Waste4Change.

Baca Juga:   Sederet Produk Teknologi Israel yang Ramai-ramai Diboikot di Seluruh Dunia

Pada tahun 2014, melihat permasalahan sampah yang masih tidak kunjung selesai, ia membangun Waste4Change, sebuah perusahaan yang menawarkan jasa dalam pengelolaan sampah (waste management) secara bertanggung jawab dan terpercaya.

Baca juga: Kaskus Berulang Tahun ke-24, Ini Sosok Dibalik Situs Komunitas Nomor 1 di Indonesia 

Dilansir dari laman resminya, Waste4Change didirikan dengan nama PT Wasteforchange Alam Indonesia yang berdomisili di Bekasi. Waste4Change menggunakan metode zero waste to landfill yang menjadi ciri khasnya dalam pengelolaan sampah. Waste4Change membawa misi untuk mengurangi sampah yang berakhir di TPA melalui inisiatif pengembangan ekonomi sirkular.

Tidak mudah bagi Sano ketika awal merintis Waste4Change serta menyadarkan masyarakat tentang bagaimana cara mengelola sampah yang benar. Sano mengaku kerap kali menerima protes dari warga terkait semakin mahalnya biaya yang harus dikeluarkan dan prosesnya yang rumit. Namun, ia tidak berhenti untuk terus mengedukasi masyarakat.

Waste4Change telah berhasil mengelola 5.400 ton sampah dan mengurangi 52% sampah yang berakhir di TPA hingga saat ini. Cakupan wilayah jangkauan layanan pengelolaan sampah Waste4Change di antaranya Jakarta, Bekasi, Bogor, Depok, Tangerang, Surabaya, Sidoarjo, Semarang, Bandung dan Medan.

Tidak hanya menyediakan jasa pengangkutan dan pemilahan sampah, Waste4Change juga menyediakan layanan strategis untuk berbagai organisasi, termasuk perusahaan.

Waste4Change memiliki empat layanan utama, yaitu:

Baca juga: Andy F. Noya, Wartawan Senior yang Bangun Startup Crowdfunding: BenihBaik.com 

  • Consult: Menyediakan riset berbasis data serta masukan dari ahli-ahli persampahan di tingkat lokal dalam rangka mengoptimalkan solusi pengelolaan sampah. Contoh Program: Solid Waste Management Research.
  • Campaign: Memfasilitasi program sosialisasi dan edukasi antar pemangku kepentingan untuk menciptakan perubahan ekosistem dalam rangka mewujudkan Ekonomi Sirkular.
    Contoh Program: AKABIS (Waste Management Academy).
  • Collect: Memfasilitasi klien dengan pengangkutan sampah terpilah, tempat sampah terpilah, serta laporan mengenai alur sampah. Contoh Program: Residential Area Waste Management, Personal Waste Management, Event Waste Management, Commercial Area Waste Management.
  • Create: Memproses sampah yang terkumpul dengan cara yang bertanggung jawab untuk diubah menjadi material daur ulang.
    Contoh Program: Extended Producer Responsibility, In-Store Recycling.
Baca Juga:   Drone Tempur Israel Ini Bakal Digunakan untuk Serang Hamas, Intip Kecanggihannya

Waste4Change telah dipercaya melayani ribuan klien atau mitra dari berbagai sektor bisnis terlibat dalam ratusan project terkait pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular, serta melatih dan mengedukasi lebih dari 500 ribu orang.
Gagasan “BijakKelolaSampah” selalu diserukan oleh Waste4Change serta mempraktekkan kebiasaan baik dalam memilah sampah dari sumber, dapat menjadi kunci meningkatnya daur ulang dan pengelolaan sampah di Indonesia. 

Sano mengungkapkan kepada SWA Online, bahwa Waste4Change diharapkan dapat meningkatkan jumlah kapasitas sampah terkelola dan mengurangi sampah yang berakhir di TPA. Sehingga, dapat mendukung terwujudnya Indonesia Bersih Sampah 2025.

Baca Berita dan Artikel yang lain di Google News.

(sza)

Related Articles

Back to top button